Aku tahu jadi ibu itu lelah, tapi kenapa tidak ada yang memberi tahuku sebelumnya bahwa akan selelah ini? Bahwa ini adalah pekerjaan yang tanpa libur, bahkan terbawa hingga tidur ... ia tetap melekat di samping, bahkan semakin malam ia semakin erat memerlukanku. Tidak ada sedetik pun terlewat tanpanya, hanya bersamanya, teman yang belum bisa menjawab obrolanku. Tangis satu-satunya isyaratnya. Sesekali aku ikut menangis bersamanya, sesak di dada karena aku terlalu bodoh untuk mengerti apa maksud tangisnya. Kalimat "Semua ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya." menjadi penenang. Setidaknya di ujung malam setelah melewati hari yang panjang, aku masih ingat dengan tulus ikhlas mengelus kepalanya, merapalkan doa, sesekali sambil menangis. Rasa lelah, sakit, rapuh, sedih, dan sesal karena sudah sebesar ini pun perjuanganku masih belum cukup untuk menjadi ibu yang baik. Iya. Pertanyaan "Kenapa tidak bisa lebih kritis seperti ibu-ibu yang lain?" saat aku tidak tahu imu...
Dipikir-pikir, libur akhir tahun ajaran kuliah lama juga ya 2 bulan. Jadi terpikir buat nonton drama korea. Niatnya bukan untuk baper-baperan, tapi nyari inspirasi, motivasi, hm kadang kalo tokohnya adorable gitu bisa jadi panutan saat lagi diposisi yang sama dengan dia(?) 😅😥 Bingung milih film apa. Tapi yang pasti tema medis, dokter, rumah sakit, kesehatan, pokoknya sejenis itu lah. Dari sekian banyak list, akhirnya milih Emergency Couple. Demi apa, KEREN! Ga nyesel nonton. Gatau kenapa kaya ngerasain apa yang dirasain sama tokoh utama cewenya. 😠Ceritanya hampir seluruhnya bersetting di rumah sakit. Yah sebagian aja di rumah tokoh, di cafe, intinya di luar rumah sakit lah wkwk. Pusat ceritanya tentang tokoh utama cewe, Oh Jin Hee dan tokoh utama cowo Oh Chang Min. Awalnya Chang Min seorang mahasiswa kedokteran, keponakan Dirut Rumah Sakit Yoon, seluruh anggota keluarganya adalah dokter. Lalu bertemu dengan Jin Hee yang bekerja paruh waktu sebagai ahli gizi di kampus Chang Min...
Pernah ga sih kalian ngerasa kayak "Ini milik aku.", "Pokoknya ini udah aku genggam!", "Ga ada yang boleh ganggu, ini punyaku!" dan perasaan lain semacam itu. Lalu ketika ada yang 'mengambil'nya, hati langsung kesel, kecewa, marah, benci sekali dengan orang yang merebut. Aku, sih, jujur pernah. Kemana kalian pergi mencari ketenangan disaat kecewa? Dengan siapa kalian curhat saat sedih yang amat sangat? Sedih karena 'kehilangan' atau 'ditinggalkan', misalnya(?) Rasanya baru saja kemarin aku merasa rapuh, jatuh dan (ibaratnya) untuk menegakkan kepala saja tidak mampu. Bagaimana pengekspresian kecewaku? Berkoar mungkin iya, tapi sebatas tulisan dan relatif sebentar lalu menguap begitu saja, selebihnya aku pilih untuk menyimpan sendiri. Kalau mau nangis, ya, cukuplah nangis saat sendiri. Hm engga sih, bukan sendiri! Lebih tepatnya berdua, dengan Allah. Terkadang menjadi tidak tau itu lebih baik daripada tau lalu menambah kesedi...
Komentar
Posting Komentar